10 Agustus 2016

Meledaknya Kembali Angel Di Maria



BeritaDetik24 - Spirit adidas yang mengusung eksplosivitas pemain, semakin mendukung gaya bermain Angel Di Maria sebagai game changer di lapangan. 

Zlatan Ibrahimovic boleh mengakhiri romantismenya dengan Paris Saint-Germain di musim panas ini. Tapi untuk Angel di Maria, sepertinya Les Parisiens tak bakal rida bila harus berpisah juga dengan sosok fundamental bagi tim di musim 2015/16 ini.

Pemain Argentina itu tak perlu berlama-lama dalam beraklimatisasi. Di musim perdananya berada di klub ibu kota Prancis, winger 28 tahun tersebut langsung mencuri hati seluruh loyalis PSG berkat serentet atraksi memukau dan kontribusi masifnya bagi PSG sepanjang musim lalu.

PSG seperti tidak peduli dengan perjudian yang mereka lakukan ketika mendaratkannya dari Manchester United seharga €64 juta, jumlah fulus yang tak main-main. Maklum, selama berkarier di Old Trafford di musim lalu, eks pentolan Benfica ini bagai tenggelam ditelan bumi. Tak ada tontonan magis dari kedua kakinya sebagaimana yang biasa publik saksikan kala dia masih memperkuat Real Madrid.

Wajar, bila di akhir musim 2014/15, para jurnalis Inggris melabelinya sebagai transfer tergagal pada musim tersebut. Tapi klub ibu kota Prancis menyadari dengan seksama, ada potensi besar di dalam diri Di Maria yang tak mampu dikeluarkan kubu United. Di PSG, potensi itu bisa tergodok dengan matang


Tanda-tanda kecemerlangan Di Maria sudah terendus ketika dia melakoni debut pada 30 Agustus tahun lalu, dengan menghadapi rival sengit timnya, AS Monaco. Masuk sebagai super-sub , mengisi peran Lucas Moura, Di Maria langsung menghadirkan impresi dengan memberikan satu assist untuk menciptakan gol ketiga tim yang dicetak Ezequiel Lavezzi dalam laga yang berakhir kemenangan telak, 3-0.

Les Rouge-et- Bleu , sebutan fans PSG, semakin dibuat terpana ketika Di Maria memainkan laga perdananya di Liga Champions. Dia mendonasi sebiji gol untuk membawa kubu Parc des Princes menang 2-0 atas Malmo. Hanya berselang sepekan, pemain yang juga memiliki paspor Italia ini membuat debut golnya di Ligue 1 Prancis ketika Guingamp harus merasakan letupan anak-anak Paris yang menang tiga gol tanpa ampun.

Sejak itu, Di Maria lebih dikenal oleh rekan-rekannya sebagai "pelayan terbaik"; tim saking rajinnya dia memberikan assist di hampir setiap pertandingan. Tak jarang, Di Maria kerap membuat dua sampai tiga assist dalam satu pertandingan. Bahkan assist plus gol beberapa kali dipamerkannya selama edisi 2015/16.

Puncaknya, di akhir musim lalu, Di Maria mencetak sejarah di Ligue 1 Prancis dengan membuat rekor umpan dalam satu musim penuh. Sebanyak 18 kreasi matang sukses diproduksi sangwinger untuk membuatnya kini menyandang predikat sebagai raja assist Ligue 1. Malah, bukan hanya assist . Dia juga sukses membukukan sepuluh gol, angka yang patut dibanggakan untuk tipe attacker sepertinya.

Revans karier Di Maria semakin harum semerbak kasturi tatkala dia mencuat secara heroik dengan mencetak gol penentu untuk memenangkan PSG atas Lille, 2-1, di final Coupa de la Ligue sebelum dia mempesembahkan treble winners domestik bagi Les Parisiens usai satuassist -nya turut menundukkan rival abadi, Olympique Marseille, 4-2, di final Coupe de France, yang melengkapi titel Ligue 1.

Dalam satu kesempatan di musim lalu, terungkap bagaimana Di Maria bisa kembali ke bentuk terbaiknya dari masa-masa kelam tatkala bernaung di Manchester United. Menurutnya, konsistensi taktik yang diterapkan pelatih Laurent Blanc adalah kuncinya. Faktor ini yang tak dimiliki Louis van Gaal.




"Dari awal, Blanc sudah sangat jelas di mana dia ingin memainkan saya dan tak pernah mengubah gagasannya," tukas Di Maria, suatu waktu, dilansir Express .

"Dia sepenuhnya memberi saya kebebasan untuk bergerak, di mana hal itu memang saya butuhkan. Sungguh saya sangat bahagia di PSG dan hal-hal semacam itu [kerancuan taktik di United] tidak terjadi di sini."

Kata kuncinya adalah kebebasan. Free role. Ya, tugas ini memang sudah begitu melekat di diri Di Maria sejak dia berseragam Benfica hingga Madrid. Pantaslah bila Di Maria terlihat serasi saat mengolah bola bersama sepatu adidas X 16+ PURECHAOS .

Sesuai dengan spirit yang dibawa salah satu apparel terbesar sepakbola ini, yakni menciptakan "kekacauan" alias tampil chaos di pertahanan lawan untuk menjadi game changer atau pengubah situasi pertandingan. Gaya bermain cepat nan lincah ala Di Maria juga semain merepresentasikan jiwa adidas X 16+ PURECHAOS , yang dirancang secara khusus buat para penggawa bertipikal ekspolosif.


Dengan kepergian Ibrahimovic, tanggung jawab Di Maria di lini serang PSG tentu saja lebih bertambah. Akan ada semacam tuntutan tak tertulis yang menggelayutinya untuk bisa mempertahankan tren penampilannya saat ini, bahkan memimpin lini serang tim musim depan.

Apalagi, Les Parisiens akan dinahkodai juru taktik anyar mulai musim depan, yakni eks pelatih tersukses Sevilla, Unai Emery. Barang tentu akan ada perubahan taktikal yang bisa menentukan peningkatan atau penurunan level setiap pemain, termasuk Di Maria sendiri.

0 komentar: